Dulu, sekitar tahun 2018, kisah ini dimulai dengan cara yang sangat sederhana—bahkan mungkin terlalu sederhana untuk disebut sebuah awal. Kami tidak pernah benar-benar saling mengenal. Hanya nama, hanya suara, hanya percakapan singkat melalui telepon jadul yang sinyalnya kadang lebih sering hilang daripada hadir. Kami dipertemukan dalam satu grup kecil sesama jurusan keagamaan di MA, di sebuah pondok yang penuh cerita, tapi saat itu kami hanyalah dua orang asing yang sesekali saling menyapa.
Waktu berjalan, tanpa disadari, jarak yang awalnya jauh perlahan menjadi dekat. Bukan dekat yang ramai seperti kebanyakan orang, tapi dekat yang diam-diam tumbuh.
Hingga pada tahun 2019, kami memutuskan untuk bertemu—untuk pertama kalinya. Tidak ada genggaman tangan, tidak ada percakapan panjang. Hanya saling memandang dari kejauhan, dengan perasaan yang bahkan kami sendiri belum sepenuhnya mengerti. Kami dekat, tapi tidak pernah menjadi “pacaran”. Seolah semesta ingin kami berjalan pelan, tanpa terburu-buru.
Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tahun 2021 menjadi titik di mana segalanya berhenti. Kami terpisah. Tanpa penjelasan. Tanpa kabar. Tanpa jejak yang bisa diikuti. Seperti dua orang yang tiba-tiba hilang dari cerita satu sama lain. Dan saat itu, saya pikir mungkin memang sampai di situ saja kisah ini berakhir.
Tapi ternyata, Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk menulis cerita yang lebih indah dari rencana manusia.
Akhir tahun 2023, tanpa diduga, kami dipertemukan kembali. Bukan lagi sebagai dua orang yang asing, tapi sebagai dua hati yang pernah saling mengenal dalam diam. Semua rasa yang dulu sempat terhenti, seakan menemukan jalannya kembali. Dan kali ini, saya tidak ingin kehilangan kesempatan yang sama untuk kedua kalinya.