Tahun 2022 menjadi awal kedekatan kami. Saat itu, kami sama-sama masih membawa luka dan belum selesai dengan masa lalu masing-masing. Meski begitu, di tengah keadaan yang rumit, kami justru menemukan rasa nyaman satu sama lain.
Namun perjalanan kami tidak mudah. Perbedaan pendapat, ego, berbagai masalah, dan bayang-bayang masa lalu sempat membuat kami memilih berjalan masing-masing. Akan tetapi, rasa takut kehilangan dan keinginan untuk saling memiliki masih tetap ada. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk kembali bersama.
Tahun 2023, setelah aku lulus dari sekolah tempat pertama kali kami bertemu, banyak yang mengira kisah ini akan berakhir. Namun ternyata tidak. Dia tetap ada, tetap menjaga, dan tetap menunggu. Jika ada yang bilang guru menunggu muridnya sampai lulus hanya ada di cerita, maka kami membuktikan bahwa itu nyata adanya.
Tahun 2024 menjadi tahun paling berat dalam perjalanan kami. Ada kecewa, ada air mata, dan ada luka yang sulit dijelaskan. Orang yang paling dipercaya sempat menjadi orang yang paling menyakitkan. Namun di tengah rasa hancur itu, kami memilih untuk tidak menyerah.
Kami belajar bahwa memaafkan bukan berarti melupakan, tetapi memberi kesempatan untuk memperbaiki.
Tahun 2025 menjadi masa kami sama-sama bertumbuh. Luka lama memang belum sepenuhnya hilang, tetapi perlahan semuanya membaik. Dia mulai berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih mengerti bagaimana cara menjaga hati yang pernah ia sakiti.
Dari sana kami sadar, tidak semua orang datang dalam versi terbaiknya. Ada yang datang untuk belajar menjadi lebih baik bersama.
Empat tahun penantiannya akhirnya tidak sia-sia. Karena pada akhirnya, dia mendapatkanku dalam versi terbaik diriku. Bukan lagi aku yang dulu, tetapi aku yang telah banyak belajar, lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih siap menjadi pendamping hidupnya.