Bermula, mungkin kita akan mengutip lagu Yura Yunita: “Berawal dari tatap". Bahwa perjumpaan dan perkenalan kami bukanlah suatu hal yang disengaja. Tidak ada satu manusia di dunia ini yang tahu apa yang akan terjadi esok hari. Seperti halnya kami, tidak ada niatan di antara kami berdua yang menyangka bahwa kami akan dipertemukan oleh waktu dan keadaan. Pada saat kami bertemu, kami hanyalah dua orang yang sama-sama tidak ingin berkenalan satu sama lain.
Namun, tatapan itu, senyuman pada hari pertemuan itu, menjadikan lukisan manis di dalam hati masing-masing.
Mungkin selayaknya Adam dan Hawa yang diturunkan ke bumi secara terpisah selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun, lalu dipertemukan kembali sebagai cinta sejati dan sebagai simbol cinta pertama manusia. Mungkin begitu juga dengan kami. Setelah sempat berpisah, dunia seolah ingin mempertemukan kami kembali, untuk berkenalan, lalu menjalin hubungan yang lebih dalam.
Seperti kata-kata: tidak ada jalan yang tidak berbelok dan bergelombang. Semakin jauh kamu berjalan, maka semakin banyak pula gelombang dan belokan dalam perjalanan yang kamu lewati. Begitu pula kami dalam menjalani sebuah hubungan. Tidak ada satu manusia pun yang menjalani hidup, apalagi hubungan dua insan yang diciptakan berbeda, dengan jalan yang lurus dan mulus saja. Pasti banyak rintangan yang harus dihadapi. Namun, ada satu hal yang tetap kami pegang teguh selama menjalani hubungan ini: apa pun cobaannya, harus kami hadapi bersama.